Tampilkan postingan dengan label M. Hum.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M. Hum.. Tampilkan semua postingan

Kemarau: Pengarang dan Pembaca Suatu Komunikasi

Drs. Hermawan, M. Hum.

1. Pendahuluan
Ali Akbar Navis, atau lebih dikenal dengan A. A. Navis, pertana sekali nama melejit dalam cakrawala sastra Indonesia modern ketika cerpen Robohnya Surau Kami dimuat di majalah Kisah dan sekaligus dinyatakan oleh majalah Kisah sebagai cerpen terbaik tahun itu. Cerpen yang berbicara tentang tingkah laku seorang penjaga surau dan beribadat kepada Allah. Kakek Garin, si penjaga surau itu, mendapat simpati dari masyarakat sekitarnya; setidaknya, orang-orang di sekitarnya tidak pernah mempersoalkan cara beribadat itu, sampai pada suatu kali muncul Ajo Sidi yang tiba-tiba menghancurkan landasan bangunan kepercayaan kakek itu. Lelaki yang disebut tukang bual itu mendongeng kepada Kakek Garin mengenai Haji Saleh yang menerima murka dari Allah dan masuk neraka bersama-sama dengan haji-haji yang lain meskipun merasa selama hidupnya senantiasa mengagungkan nama Allah swt. Mendengar dongeng semacam itu, Kakek Garin yang berpikiran sederhana itu merasa tersindir. Ia putus asa sebab segala yang dilakukannya di dunia selama ini ternyata keliru; itulah sebabnya akhirnya ia bunuh diri.
Cerpen-cerpen yang dibuatnya setelah cerpen Robohnya Surau Kami ada sebanyak 9 buah yang akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku kumpulan cerpen di bawah judul Robohnya Surau Kami. Satu lagi diantara cerpennya yang menarik adalah cerpen yang berjudul Datangnya dan Perginya. Cerpen yang mengisahkan tentang seorang yang terlalu banyak kawin, sehingga anaknya sendiri telah kawin dengan anaknya yang lain. Begitu cara Navis memberikan sindiran terhadap masyarakat lingkungan yang pada waktu itu merupakan kebanggaan bila punya istri lebih dari satu. Pada cerpennya yang lain menyindir tentang jodoh seseorang yang selalu ditentukan oleh kaum keluarga. Melalui cerpen Jodoh, Navis telah memenangkan sayembara Kincir Emas yang diselenggarakan Radio Nederland Weredomroep tahun 1975. Cerpen yang bercerita secara flash back ini mengisahkan tentang seseorang yang mendapat jodoh dari iklan surat kabar, padahal jodoh itu seharusnya ditentukan oleh kaum keluarga atau mamak (paman) sebagai kebiasaan (adat) daerah tokoh itu bermukim.
Jika dijajarkan semua karya Navis terutama dengan karyanya yang tersebut di atas dengan novel Kemarau ini terlihat ada suatu maksud pengarang yaitu ingin merombak sistem hidup atau pandangan hidup masyarakatnya terhadap hal-hal yang menjadi keyakinannya. Masyarakat sekitar pengarang saat itu selalu suka ikut-ikutan, tidak yakin dengan keyakinan yang dianutnya. Apalagi zaman saat itu masih dalam keadaan revolusi. Hal lain adalah kemalasan yang terjadi pada masyarakat. Tidak mau bekerja keras. Masyarakat maunya menerima apa adanya, atau mencari hal-hal yang mudah dikerjakan dengan untung yang lebih baik atau lebih besar. Kakek (Garin) yang selalu beribadat kepada Allah swt tanpa berusaha bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ia hanya menerima upah sebagai Garin (penjaga surau) dari orang yang sembahyang di Surau itu, atau mendapat sumbangan dari hasil kolam di depan surau itu bila dipanen dan menerima upah bila ada orang yang mau mengasah pisau atau gunting, meskipun kadang-kadang upah tersebut tidak terlalu diharapkannya. Begitu juga masyarakat yang ada dalam novel Kemarau yang dilanda kekeringan, mereka tidak mau berusaha, malah mereka lebih senang ke dukun untuk mengubah keadaan, atau berserah diri kepada Tuhan, dan manakala kedua usaha tersebut terbentur maka mereka senang main domino. Gambaran atau karikatur yang merupakan sindiran ini selalu dimunculkan oleh Navis.
Tokoh aku dalam cerpen Datangnya dan Perginya juga di-gambarkan sebagai seorang tokoh yang melalaikan tanggung jawab terhadap keluarga sehingga tokoh tersebut tidak tahu bahwa anaknya dari istri yang satu telah kawin dengan anaknya dari istri yang lain. Meskipun akhirnya dapat diceraikan namun telah menimbulkan akibat yang fatal karena sudah mempunyai keturunan. Harapan dari tokoh aku yang sudah bertaubat juga tidak tercapai karena telah melalaikan tugasnya, yaitu membiarkan anak sama anak kawin. Sindiran-sindiran terhadap masyarakat yang malas dan tidak mau bekerja keras. Sindiran terhadap para mamak (paman) kaum yang selalu menentukan jodoh anak kemenakannya (dalam cerpen Jodoh). Sindiran terdahap sese-orang yang lebih mementingkan beramal daripada memberi nafkah kepada keluarga sebab beramal dengan selalu beribadat kepada Tuhan akan mendapat hidup yang baik di akhirat dalam cerpen Robohnya Surau Kami.
Tokoh Sutan Duano dalam novel Kemarau, dilukiskan pengarang sebagai tokoh yang ulet dan suka bekerja keras. Ia juga seorang yang taat menjalankan perintah Tuhan sehingga masyarakat mengaguminya sebagai tokoh yang pantas ditiru. Ia juga ingin merombak sistem hidup masyarakat lingkungannya yang suka malas-malasan. Ketika terjadi kemarau panjang, ia mencari air dengan mengangkut dari danau. Air dibawa dengan kaleng bekas minyak tanah dari danau. Ia ambil untuk menyirami sawahnya. Pekerjaan ini dikatakan pekerjaan orang gila. Beda dengan tokoh Kakek Garin. Sutan Duano di samping bekerja keras, ia juga diangkat sebagai penjaga surau yang sekaligus guru mengaji. Semua hasil pencahariannya diberikan kepada masyarakat. Sementara masyarakat mulai tertarik dengan sifat sosial Sutan Duano, apalagi ketika Sutan Caniago berhasil dipinjami uang untuk merantau hidup di kota, tanpa meminta bunga hasil pinjaman. Meskipun, dengan menggadaikan hasil panen padinya, Sutan Caniago merasa tidak menggadaikan hasil panen tersebut. Sutan Caniago hanya dipinjami uang secara cuma-cuma. Begitu juga dengan Haji Syamsiah yang kekurangan uang untuk naik haji, dipinjami uang oleh Sutan Duano tanpa meminta bunga. Walau Haji Syamsiah dan hutang Haji Syamsiah tidak perlu dibayar, sebab dari hasil pohon kelapa selama tergadai kepada Sutan Duano telah menghasilkan uang yang bahkan lebih dari hutang Haji Syamsiah semula.
Kepekaan pengarang terhadap lingkungannya dan wawasan tentang agam dan kebiasaan masyarakat menjadikan masalah-masalah yang menarik untuk diangkat ke dalam suatu karya sastra. Hal ini tercermin dari karya-karyanya yang selalu merupakan sindirian yang tajam kejadian masyarakat sekelilingnya, sehingga membuat karyanya nikmat untuk dinikmati. Apalagi gaya khas sindiran yang dimiliki pengarang dan ditambah dengan bahasanya yang mudah dipahami oleh masyarakat pembaca seperti kutipan berikut ini.
Musim kemarau di masa itu sangatlah panjangnya. Hingga sawah-sawah jadi rusak. Tanahnya rengkah sebesar lengan. Rumpun padi jadi kerdil dan menguning sebelum padinya jadi terbit. Semua petani mengeluh dan putus asa. Orang-orang mengomel perintah yang menyuruh mereka agar dua kali turun ke sawah di tahun itu. Setengah bulan setelah benih ditanam, bendar-bendar tak mengalir air lagi karena hujan sudah lama tidak turun. Setiap pagi dan setiap sore para petani selalu memandang langit, ingin tahu apakah hujan akan turun atau tidak. Tetapi langit selalu cerah di siang, dan alangkah gemerlapnya di malam hari dengan bintang-bintang. Dan setelah tanah sawah mulai merengkah, mulailah mereka berpikir. Ada beberapa orang pergi ke dukun, dukun yang terkenal bisa menangkis dan menurunkan hujan. Tapi dukun itu tak juga bisa berbuat apa-apa setelah setumpukan sabut kelapa dipanggangnya beserta sekepal kemenyan. Hanya asap tebal yang mengepul di sekitar rumah dukun itu terbang ke awang bersama manteranya. Dan setelah tak juga keramat dukun itu memberi hasil, barulah mereka ingat pada Tuhan. Mereka pergilah setiap malam ke mesjid mengadakan ratib, mengadakan sembahyang kaul meminta hujan. Tapi hujang tak kunjung juga turun. Ketika rengkahan sawah sebesar betis, rumput-rumput dan belukar sudah menguning, sampailah putus asa ke puncaknya. Lalu mereka lemparkan pikirannya dari sawah, hujan setetespun tak mereka harapkan lagi. Sebab meskipun hujan akan turun juga saat itu, tidaklah ada gunanya bagi sawah mereka. Dan untuk membunuh putus asa, mereka lebih suka main domino atau main kartu di lepau-lepau (Navis, 1992: 1).

Gaya bahasa sindiran ini mengingatkan kita akan Robohnya Surau Kami yang punya gaya bahasa sindiran sebagai berikut.
“Kalau ada, kenapa kau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedangkan harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka ber-ibadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.
Sedangkan aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahKu saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai malaikat halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di kerak neraka” (Navis,1966: 19).

Kesegaran gaya bahasa sindiran inilah yang membuat pembaca karya Navis lebih enak untuk menyelesaikannya. Gambaran-gambaran yang hidup di tengah masyarakat berhasil ditangkap oleh Navis dan memasuk-kannya ke dalam karyanya, sehingga kadang-kadang pembaca pun merasa berada dalam karya tersebut bila kebetulan gambaran itu cocok dengan pembaca.

2. Pengarang dan Pembaca
Karya sastra akan selalu menarik perhatian karena mengungkap-kan penghayatan manusia yang paling dalam, dalam perjalanan hidup-nya di segala zaman di segala tempat di dunia ini. Melalui sastra sebagai hasil kesenian kita memasuki pengalaman bangsa dan bangsa-bangsa dalam sejarah dan masyarakatnya, menyelami apa yang pernah dipikirkan dan dirasakan. Dengan demikian menambah kearifan dan kebijaksanaan dalam kehidupan (Jassin, 1983: 4).
Novel sebagai salah satu produk sastra memegang peranan penting dalam memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk menyi-kapi hidup dalam kehidupan manusia. Dengan demikian novel sebagai bentuk sastra fiksi dapat memberikan alternatif menyikapi hidup secara artistik imajinatif. Hal ini dimungkinkan karena di dalam novel persoalan dibicarakan adalah persoalan tentang manusia dan kemanusiaan. Melalui tokoh-tokoh yang dipilih dan ditentukan pengarang dalam menyampaikan cerita, pengarang menyampaikan tema yang diinginkan dan amanat yang ingin dikemukakan.
Membaca novel Kemarau kita dihadapkan kembali dimasa zaman awal kemerdekaan. Pengarang mengajak kita melihat langsung tentang hidup dan kehidupan manusia saat itu. Pengarang dengan meyakinkan bahwa peristiwa itu telah benar-benar adanya, sehingga pembaca merasa yakin akan kejadian yang ada pada cerita dalam novel tersebut. Tokoh-tokoh dihidupkan sedemikian rupa dengan gaya bahasa dan setting yang cocok dimainkan tokoh. Pengalaman hidup pengarang yang dimasukkan dalam cerita membuat tokoh cerita dapat mengatasi permasalahan yang ada pada cerita. Peristiwa yang terjadi dalam cerita dengan permasalahannya telah berhasil diungkapkan pengarang dengan menemui jalan keluarnya. Pengetahuan pengarang akan permasalahan diuraikan pengarang melalui tokoh yang menye-babkan cerita hidup dan membuat pembaca menjadi betah.
Cerita yang mengkritik tentang kehidupan masyarakat di awal kemerdekaan dengan sindiran-sindiran melalui tokoh-tokoh yang ditampilkan menyebabkan pembaca terpaku. Misalnya untuk menyata-kan orang-orang malas saja berhasil dilukiskan pengerang seperti yang telah dikutip awal tulisan ini. Begitu juga, dengan keyakinan masyara-kat yang masih plin-plan. Suasana saat revolusi dilukiskan sebagai berikut.
Tapi pada suatu hari, ketika serdadu Belanda lagi mencoba kekuatan tenaga revolusi rakyat Indonesia dengan menduduki seluruh kota, banyaklah pimpinan mengungsi ke desa. Tidak pula kurang banyaknya yang mengungsi ke kampung tempat Sutan Duano tinggal (Navis, 192: 4).

Kemudian bagaimana saat revolusi selesai dilukiskan sebagai berikut.
Penduduk kampung itu adalah bangsa yang suka merantau. Tanahnya sempit karena terletak antara bukit dan danau yang vulkanis. Bidang-bidang tanah yang melandai telah dijadikan sawah atau ladang-ladang kelapa atau perumahan ... Maka itu, setelah serdadu Belanda betul-betul sudah angkat kaki dari Indonesia, lebih dari separuh laki-laki di situ kembali ke rantau. Laki-laki yang tinggal hanya orang-orang tua dan anak-anak, dan segelintir orang muda yang tak punya keberanian berjuang di kota. Dan mereka yang tinggal itu dihinggapi semacam mabok. Mabok seperti orang yang telah berpuasa sebulan, lalu mem-punyai kebebasan melahapi penganan di hari raya. Ketika isi kemerdekaan itu ditumpahkan ke kampung itu, kehidupan lama telah lalu. Semua anak-anak harus bersekolah tapi guru-guru kurang, lalu didirikan kursus guru. Semua rakyat harus melek huruf, lalu didirikan kursus PBH (Navis, 1992: 4).

Hanya ada seorang tokoh bisa menghadapi suasana waktu karena ia bekerja keras. Tokoh tersebut adalah Sutan Duano.
Di waktu itulah Sutan Duano memulai suatu kehidupan baru. Beberapa bidang sawah yang terlantar diminta izin pada yang punya untuk dikerjakannya. Sapi-sapi yang tak tergembalakan lagi, ditampungnya dengan perjanjian seperdua. Seekor beruk dibelinya, dan diambilnya upah menurunkan kelapa sebanyak tiga buah setiap sepuluh yang diturunkan. Malam-malam ketika orang lagi asyik omong-omong di lepau atau mengikuti kursus, ia membanamkan dirinya mengikis lumut kulit manis sampai tengah malam. Di samping itu ia telah mulai sembahyang dan mempelajari agama melalui buku-buku. Dan ketika orang-orang sudah bosan pada kursus-kursus, baik karena uraian guru-guru tak menarik hati, harga-harga sudah mulai meningkat, uang pun sudah bertambah sulit memperolehnya. Tapi Sutan Duano sudah termasuk jadi orang yang berada di kalangan rakyat di kampung itu. Ia sudah punya sepasang bendi, punya seekor sapi untuk membajak (Navis, 1992: 5).

Pengarang juga melukiskan, bagaimana ambisinya masyarakat untuk mengadu-nasib di kota, di mana kota dianggap sesuatu yang memberikan harapan hidup besar di banding di desa. “Sudah yakin benar Sutan akan berhasil baik jika ke kota?” Tanyanya Sutan Duano setelah lama berpikir-pikir. “Keadaan nasib siapa tahu.” “Jangan bermain judi dengan nasib.”
“Aku tidak bermain judi. Kalau di sini sangat sempit hidupku, mungkin di tempat lain Tuhan membukakan pintu rezeki selapang-lapangnya buatku.”
“Di mana Sutan tahu rezeki lebih lapang di kota dari di sini?” Sutan Caniago terdiam dan kepalanya tertekur.
“Kalau Sutan jual padi itu, apa yang dimakan anak bini Sutan kelak?”
“Sebelum turun ke sawah dulu, kami sudah sepakat untuk menjual padi itu setelah disiangi. Hanya itu satu-satunya jalan untuk memperbaiki nasib.”
“Di kampung ini pun setiap orang dapat memperbaiki nasibnya kalau giat.” (Navis, 1992: 7)
...
“Apa yang menarik Sutan pergi merantau itu?” tanya Sutan Duano selanjutnya.
“Si Maraiman.”
“Si Maraiman?”
“Kami sama-sama bertani dulunya. Tapi kemudian ia pergi merantau ke kota. Enam bulan ia baru di rantau, ia telah sanggup membelikan anak istrinya pakaian yang layak ketika ia pulang. Tapi aku, apa yang telah dapat kuberikan buat istriku, selain anak bertambah setiap tahun?”
“Aku dengar si Maraiman itu, selama ini di rantau tak pernah mengirimkan nafkah buat keluarganya.”
Sutan Caniago terdiam.
“Itu kan tak bisa dibanggakan. Sutan di sini selalu meng-hiraukan keluarga Sutan. Meski kain bajunya tak terbelikan, tapi nafkahnya Sutan urus. Itu kan sama saja apa yang diberikan si Maraiman kepada istrinya.”
...
“Aku lama hidup di kota,” kata Sutan Duano melanjutkan.
“Kota tidak bisa menenteramkan hati. Itulah sebabnya aku ke kampung. Di sini aku tenteram dan bahagia. Mengapa pula Sutan yang sudah tinggal di kampung yang tenteram ini, lalu hendak ke kota yang riuh itu? Kota memang banyak pula kemewahan. Tapi bukan kemewahannya adalah sarang kelaknat-an. Pergi ke kota berarti kita memasukkan diri kita ke kancah yang laknat... (Navis, 1992: 9).

Walau dengan usaha demikian Sutan Duano belum juga berhasil merobah nasib orang-orang kampung tersebut. Malahan dia telah membantu ekonomi masyarakat dengan menghapuskan sistem ijon dan memberikan pinjaman tanpa bunga.
Akhirnya pada suratnya yang keempat, dikatakannya bahwa ia merasa sangat terharu karena Sutan Duano telah mengembalikan hasil padinya yang dijual dengan hanya memotong seharga uang yang diberikan dulu.
...
Berita Sutan Duano yang telah mengembalikan padi pada istri Sutan Caniago itu sangat menggemparkan seluruh isi kampung itu, seperti berita Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Dan itulah mulanya Sutan Duano menjadi orang yang berarti di kampung itu (Navis, 1992: 12)

Pada kesempatan lain terjadi pada Haji Syamsiah yang berkekurangan untuk biaya naik hajinya.
Ketika Haji Samsiah mau ke Mekkah, ia kekurangan uang. Digadaikannya pohon kelapanya limabelas batang kepada Sutan Duano. Orang lain hanya mau memagangnya lima rupiah. Tapi Sutan Duano mau saja memagangnya seberapa diminta Haji Syamsiah ketika itu. Setelah setahun, pohon kelapa itu dipulang-kan kembali. Mulanya disangka Haji Syamsiah harus mengem-balikan uang Sutan Duano. Maka tak menerimanya. Tapi tidak demikian halnya. Menurut Sutan Duano, selama kepala itu dipagangnya, ia telah memperoleh hasil lebih dari seratus lima puluh rupiah. Karena itu ia telah berlaba. Tapi yang pokok katanya, cara pagang gadai yang diadatkan oleh kampung kita ini, haram hukumnya (Navis, 1992: 28).

Pengarang juga menghilangkan anggapan masyarakat terhadap orang tua yang tidur di surau “adalah untuk menghabiskan sisa umur-nya sambil berbuat ibadah melulu, sembahyang, zikir, dan membaca Quran sampai mata jadi rabun. Memang itulah gunanya surau dibuat orang selama ini. “Namun, ternyata pengarang, lewat tokohnya Sutan Duano, berbuat lain. Ia menghabiskan waktunya dengan kerja keras.”
Kehidupan masyarakat terutama perempuan di kampung itu yang suka mengaji bukan lantaran ingin memperdalam pengetahuan agama, tetapi sekedar karena tertarik kepada si Guru. Hal itu jelas menunjuk-kan ketidakmatangan emosi, yang antara lain digambarkannya dalam perkelahian antara Gudam dan Saniah yang ternyata menaruh hati kepada Sutan Duano.
“Mestinya juga kukatakan rupanya pada Guru? Apa Guru kira, aku datang ke surau Guru karena aku ingin mempelajari agama? Guru lira, perempuan lain datang karena pelajaran Guru yang menarik hati? Aku, si Gudam, perempuan janda yang lain, perempuan-perempuan yang tua itu, sama saja. Kami datang hanya untuk memperintang waktu. Guru lihat, mana perempuan yang bersuami yang serajin kami mengikuti pelajaran di surau Guru (Navis, 1992: 89).

Bila pada bagian sebelumnya telah kita lihat bagaimana kritik tentang kemalasan masyarakat, maka dibagian lain sebagai jawaban dari hal tersebut dilukiskan pengarang bagaimana kerja keras itu yang baik lewat tokoh Sutan Duano ketika menghadapi kemarau di kampung itu.
Pada bagian lain pengarang berusaha mengkritik tentang penda-laman ilmu agama masyarakat yang kurang dalam. Sutan Duano berusaha untuk merubah hal-hal yang kurang baik itu terhadap pengalaman agama yang salah dan kebiasaan pria.
“Memang aneh. Pikirannyapun banyak pula yang aneh. Dulu zakat diberikan orang kepada setiap orang yang mau meminta. Tapi sekarang berkat ajarannya, zakat diberikan kepada yang betul-betul tidak mampu. Hingga zakat itu ia dapat memodali hidupnya agar lebih baik.”
“Diantaranya akulah yang telah merasakan nikmatnya,” kata yang berkarib dengan Mangkuto pula (Navis, 1992: 27).
Dan Sutan Duano menghentikan pekerjaannya. Ia berdiri dan menghadap pada perempuan itu.
“Engkau sudah tahu sejak dulu, aku tidak suka pada pesta-pesta yang berketentuan itu.”
“Aku tidak mengadakan pesta, aku membayar nazar karena Acin telah sembuh,” kata Gudam pula.
“Siapa-siapa yang kau undang makan ke rumah? Tentu Wali Negari juga ? Datuk Bebangso juga, bukan?
“Ya.”
“Itulah yang aku tidak setuju. Kau boleh membayar nazar mu mengundang orang makan enak-enak ke rumahmu. Tapi bukan mengundang orang kenyang, bukan mengundang orang-orang yang biasa makan enak. Itu ria namanya. Dilarang oleh agama. Yang dianjurkan hanyalah megundang anak-anak yatim atau orang-orang miskin yang kelaparan (Navis, 1992: 94).

Bagian akhir dari novel ini adalah kritikan terhadap orang-orang suka kawin cerai sehingga tidak tahu lagi bahwa anak sesama anak tidak saling mengenal dan akhirnya kawin.sindiran ini diberikan kepada masyarakat yang pada waktu itu menjadi kebanggaan bila beristri lebih dari satu.
Kau lihat nanti, betapa bahagianya mereka. Mereka sudah punya dua orang anak yang manis-manis. Malah hampir tiga. Kalau mereka kau beritahukan, bahwa mereka bersaudara kandung, mereka mesti bercerai sebagai suami istri. Kalau mereka mengerti, kalau mereka beriman dan tawakal seperti kau katakan tadi, tidaklah sulit bagi masanya yang akan datang. Tapi kalau tidak, hancurlah hari kemudiannya. Ambruklah kehidupan-nya yang dulu tersebab kau. Kalau mereka bercerai, anak mereka hendak jadi apa? Tiga orang anak yang tak tahu menahu, cobalah kau pikir ... (Navis, 1992: 113).

Bila pengarang pada cerpen Datangnya dan Perginya mengambil keputusan terhadap persoalan ini dengan membiarkan perkawinan anaknya itu demi rasa kemanusiaan, maka pada novel Kemarau persoalan ini diselesaikan dengan berpedoman kepada ajaran Islam. Pekerjaan itu adalah dosa, maka Masri dan Arni bercerai dengan keinsafan dan kesadaran sebagai umat Tuhan yang tawakal dan beriman.
Banyak lagi sindiran-sindiran tentang kehidupan masyarakat yang diungkapkan pengarang, seperti tingkah laku para janda di kampung yang mau berkelahi untuk memperebutkan pria yang diidamkannya. Mempergunakan guna-guna untuk mencelakakan sese-orang seperti yang dilakukan Saniah terhadap Gudam, namun cepat diketahui Sutan Duano. Kebobrokan kehidupan masyarakat inilah yang diungkapkan pengarang melalui novel Kemarau ini. Melalui renungan implied author mau pun narrator-nya dituangkan semua sindiran-sindiran itu. Pengarang mengungkapkan semua kejadian ber-dasarkan situasi saat itu. Kita bisa melihat bagaimana kehidupan munafiknya seorang tokoh pejuang. Ketika mereka diserang, semua lari ke desa dan berdiam untuk sementara. Kemudian manakala keadaan aman mereka keluar dan telah dianggap atau mengaku sebagai pahlawan. Dari hal-hal yang tersebut di atas mugkin dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pengarang sebenarnya ingin mengungkapkan tentang keyakinan atas kodrat Tuhan yang menentukan hidup manusia. Meskipun seorang telah tobat, namun Tuhan akan tetap menguji dan menuntut amal-saleh yang lebih tinggi, yang pada akhirnya juga akan sampai pada suatu pilihan antara kemanusiaan dan keyakinan ber-agama.
Suatu hal lagi yang belum terungkapkan oleh pengarang adalah tentang masa lampau Sutan Duano, meskipun hal itu sebenarnya bisa dikembangkan. Entah berapa kali ia kawin cerai sehingga keluarganya berantakan, hidupnya tidak karuan, dan tentunya kerja kerasnya di kampung itu bisa saja ditafsirkan sebagai usaha untuk melarikan diri dari masa lampau yang kelam itu. Ini bisa merupakan landasan bagi keadaan dan perkembangan kejiwaannya, tetapi karena tidak digarap secara khusus, tokoh-tokoh itu seolah-olah tidak memiliki masa lampau yang jelas. Hanya di akhir novel digambarkan betapa jauh jarak termasuk dari segi martabat antara masa lampau dan kehidupan-nya di kampung itu. Lelaki setengah baya yang di kampungnya mendapat penghargaan dari warga lantaran kerja keras, kekayaan dan sikap tolong-menolong, ternyata sama sekali tidak ada harganya di mata bekas istrinya yang tentunya melambangkan masa lampau.
Bertolak dari judul novel ini Kemarau yang memang mengisah-kan bagaimana suatu musim kering yang panjang melanda suatu kampung. Namun penduduknya tidak mau berusaha, padahal di kampung sendiri Tuhan telah menyediakan air danau. Untuk mengatasi semua itu muncullah tokoh Sutan Duano. Dengan bekerja keras maka semua kesulitan tersebut di atasi dengan baik, hanya saja penduduk tidak mau mengikuti jejak langkahnya, meskipun Sutan Duano di-anggap tokoh masyarakat yang disegani, sehingga hanya Sutan Duano sendiri yang bisa berhasil. Makna lain yang tersirat dari judul ini, di samping musim, juga kehidupan masyarakat itu sendiri. Terutama tentang pemahaman keagamaan. Sehingga masyarakat atau penduduk itu juga gersang akan kehidupan rohaniahnya. Mereka belajar agama hanya karena ikut-ikutan saja. Kemarau itu juga terjadi pada diri kaum wanita yang lebih banyak janda. Janda-janda itu sudah kering batinnya karena kekurangan nafkah batin dari para kaum pria yang lebih banyak merantau atau berada di luar kampung tersebut. Kemarau yang lain adalah tentang pendidikan anak-anak karena guru-guru kurang maka yang bisa diadakan hanyalah kursus-kursus singkat saja. Dan akibat dari kemarau itu maka timbullah kemunafikan, kurang percaya diri, bisa diadu-domba atau di depan seseorang berlaku baik tetapi di belakang orang tersebut berlaku jelek.
Hal-hal di atas itu terungkap dari pengakuan masyarakat ketika Sutan Duano dikabarkan hendak meninggalkan kampung itu.
Kemudian diceritakanlah oleh Rajo Mantari betapa kecang-gungan penduduk di situ seandainya Sutan Duano jadi pergi. Dimintanya maaf seluruh isi kampung itu yang seperti telah memalingkan dirinya dari Sutan Duano semenjak musim kemarau melanda kampung itu. Kini, katanya mereka sudah insaf, bahwa Sutan Duano lah yang benar. Mulai saat itu, mereka berjanji mematuhi anjuran Sutan Duano, asal saja ia tidak jadi pergi. Diceritakannya juga, betapa kekurangan kampung selama ini terhadap sehari-hari, koperasi simpan pinjam, gotong-royong bertani, soal zakat fitrah, bahkan sampai soal ijon yang telah dapat dilenyapkan. Disebutnya segala jasa Sutan Duano selama ini, baik dalam merukunkan rumah tangga, menyelesaikan seng-keta orang sekeluarga. Juga dalam soal tuntutan beragama secara betul (Navis, 1992: 75).

Seperti telah disebutkan di atas bahwa karya ini adalah merupa-kan sindirian terhadap masyarakat pada masa permulaan kemerdekaan dalam suatu kampung (mungkin saja kampung pengarang) dengan serba kekurangannya. Dan kekurangan itu disimbolkan lewat judulnya Kemarau yang berarti telah terjadi musim kering yang panjang di kampung itu.
Apa yang kita rasakan setelah membaca novel Kemarau ini, ialah impleid reader-nya adalah orang-orang Minangkabau yang lebih suka beristri banyak, malas bekerja, merantau hanya untuk ikut-ikutan saja atau kalau berhasil di rantau mereka lupa akan pulang untuk mem-bangun kampung dan pemahaman akan agama. Agama yang diterima tidak dikaji secara mendalam sehingga terjadi salah tafsir dari maksdu-maksud agama tersebut khususnya Islam. Pengarang melalui tokoh-tokoh ceritanya mengungkapkan hal-hal tersebut dan sekaligus ber-usaha merombaknya demi kebaikan kampung halamannya. Menurut pengakuan pengarang dalam Pamusuk Eneste (1982: 68) bahwa tokoh Sutan Duano ditampilkan sebagai tokoh ideal tipe Islam karena di Sumatera Barat banyak ulama Islam terkemuka berasal dari orang-orang taubat atau sadar setelah mudanya menjadi bergajul atau bajingan. Orang-orang yang bertaubat umumnya lebih kongrit amal salehnya daripada orang-orang beramal karena tradisinya meng-hendaki begitu. Kemudian, bagi penduduk Minangkabau Islam bukan saja sebagai agama, tetapi juga telah menjadi kultur. Memajukan bangsa Indonesia dengan memakai kulturnya akan lebih mudah dari pada dengan memasukkan ajaran lainnya. Karena kepemimpinan Islam (ulama) lebih dipercaya rakyat daripada pimpinan lainnya. Di samping itu sesuai dengan kebiasaan orang Sumatera Barat lebih suka menyin-dir daripada memberikan langsung terhadap sesuatu yang mau diajarkan.

3. Penutup
Karya sastra yang baik adalah karya yang bisa menggambarkan situasi zamannya dan melalui karya itu pengarang berusaha meng-ungkapkan ide atau gagasannya dengan mencarikan jalan keluar dari permasalahan yang ditemui pada saat itu. Hal ini telah dilakukan oleh Navis. Suatu keadaan zaman pada masa setelah kemerdekaan dilukis-kan dengan berbagai permasalahan hidup dan kehidupan manusia telah digambarkan secara baik kembali, dihadirkan dengan bahasa yang lancar dan perenungan yang mendalam. Kemudian dengan penga-laman hidup pengarang dibentuklah jalan keluar dari permasalahan yang ditemui pada zaman tersebut. Meskipun gaya Navis yang penuh dengan sindiran tidak semua orang akan dapat mematuhinya tetapi bagi orang Minangkabau yang sejati cara demikianlah yang cocok untuk memberikan pelajaran kepada seseorang. Orang Minangkabau lebih merasa terhina bila disindir daripada dipukul di depan orang ramai. Agaknya implied reader dari novel ini, tentang orang-orang Minangkabau khususnya dan Sumatera Barat umumnya.
Bila dilihat dari keseluruhan karya Navis, kata, kalimat, dan wacana dari setiap karangannya adalah berupa sindiran. Inilah ciri khas dari Navis. Sindiran-sindiran yang ditampilkan Navis telah merupakan model tersendiri atau wacana Navis adalah demikian.
Pembaca dalam hal ini adalah pembaca arif akan situasi dan suasana. Dengan gaya bahasa khas ironi, Navis berhasil menggiring pembaca pada persoalan dan mengantarkan pembaca pada suatu jawaban, meskipun kemudian pembaca juga mempunyai jawaban yang lain lagi. Akhirnya pengarang yang baik adalah pengarang yang berhasil mengungkapkan pikirannya lewat karya dan berhasil di-tangkap pembaca dengan baik. Dan pembaca yang baik tentulah pembaca yang dapat mengambil amanat dan maksud dan ide pengarang, sehingga dimana saja dan kapan saja ide tersebut dapat berkembang sesuai dengan situasinya.
(Penulis Dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta)




Daftar Pustaka


Abdullah, Imran T. 1984. “Resepsi Sastra Teori dan Penerapannya” dalam majalah Humaniora No. 1 tahun 1984 hal. 71.

--------------------- 1993. “Burung-Burung Rantau: Pengarang, Teks, Pembaca dalam Rangkaian Pemaknaan”. Makalah Diskusi Buku Sastra dan Temu Pengarang PBSI FKIP dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Damono, Sapardi Djoko, 1992. “Kata Pengantar” dalam Novel Kemarau. Jakarta; Grasindo

Eneste, Pamusuk, 1993. Proses Kreatif. Jakarta Gramedia.

Jassin, H. B. 1984. Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia. Jakarta; Gramedia.

Martin, Wellace. 1980. Recent Theories of Narrative. New York; Cornell University Press.

Navis. A. A. 1966. Robohnya Surau Kami. Bukittinggi; Nusantara.

-------------- 1992. Kemarau. Jakarta; Grasindo.

Malin Kundang dari Masa ke Masa
Oleh Drs. Hermawan, M. Hum.

Di nusantara tema-tema anak durhaka memang banyak namun disampaikan dengan versi cerita yang berbeda seperti Amat Rhang Manyang dari Nangro Aceh Darussalam; Sampuraga, Si Kantan, dan Asal Mula Pulau Si Kantan dari dari Sumatera Utara; Si Lancang, Tokong Si Culan dari Riau; Malin Kundang dari Sumatera Barat; Pulau Lancang Gadung dari Jambi; Batu Nanges dan Dampu Awang dari Sumatera Selatan; Si Linggi dari Kalimantan Barat; Batu Banana dari Kalimantan Tengah; Anak Durhaka, dan Dampu Awang dari Kalimantan Timur; Radin Pengantin, Si Angui, dan Nini Kudampai dari Kalimantan Selatan; dan Nakhoda Bincit dari Malaysia. 

Ada banyak cerita Malin Kundang (MK). Masing-masing cerita itu tumbuh dan berkembang. Bermula dari cerita rakyat yang berkembang dari mulut-telinga-mulut, kemudian dibukukan. Selanjutnya muncul MK dalam bentuk kreatifitas lain seperti puisi, cerpen, film, sinetron, dan esai. Semua cerita itu tetap saja tentang kedurhakaan, akan tetapi tidak saja durhaka antara anak dan ibu, namun juga kedurhakaan ibu kepada anak, dan pengarang kepada pembaca. Malin Kundang susunan Syamsuddin Udin (bertolak dari dendang rebab), Malin Kundang, Ibunya Durhaka cerpen A. A. Navis; Malinkundang, Malinkundangkah Engkau? Puisi Hamid Jabbar; Malin Kundang naskah drama Wisrann Hadi; Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang karya Goenawan Mohammad; Liem Khoon Doang karya Wisran Hadi; Malin Kundang Menantang Mitosnya karya Umar Junus; Malin Kundang Millenium karya Alwi Karmena; Malin Kundang sinetron SCTV; dan Malin Kundang 2000 karya Budiar Putra.

Apa dan mengapa Malin Kundang hadir dalam kehidupan dan kebudayaan kita. Kita bisa lihat dari sisi apa saja, tanggung jawab, kewajiban, adat, agama, politik dan keadaan. Inilah sebuah kajian awal tentang Malin Kundang dari masa ke masa. Malin Kundang memang anak durhaka, tetapi apakah kedurhakaan itu timbul oleh Malin Kundang semata, bagaimana dengan keadaan, adat, agama, ekonomi, dan budaya yang ada pada waktu Malin Kundang itu ada. Malin Kundang ada di berbagai daerah di Indonesia (nusantara) ini. Untuk itu perlu suatu kajian sebagai penelusuran budaya dan bentuk lainnya. Apakah ini cognitive cultural?

Sastra adalah penjelmaan keindahan melalui medium bahasa dan mengutarakan pesan verbal bagi khalayak pembacanya. Kesanggupan untuk menemukan matra keindahan itu tentunya dipengaruhi oleh pengenalan bahasa dan terlebih lagi oleh penguasaan berbahasa. Mengenal bahasa tidak dengan sendirinya berarti menguasainya sebagai medium ekspresi yang cukup meleluasakan pilihan gaya bagi penggunanya. Begitu pula cukupnya pengetahuan tentang tatabahasa dan kekayaan kosakata semata-mata belum menjadi jaminan bagi pemahaman sastra, apalagi untuk menangkap dan menghayati nilai estetik yang terpantul melalui verbalisasi.
Pengenalan dan penguasaan bahasa sebagai medium komunikasi memang menjadi dasar untuk selanjutnya dikembangkan sebagai kesanggupan memahami sastra, namun tidak pada sendirinya merupakan sehimpunan anasir yang siap untuk menikmati karya sastra sebagai perwujudan estetika melalui medium bahasa; untuk tujuan ini diperlukan kecanggihan yang berbentuk melalui pembekalan sepanjang berlangsungnya proses didaktik dan otodidak.
Pendidikan sastra adalah pendidikan yang kreatif. Sastrawan adalah penulis kreatif. Persoalannya, kenapa di masa lalu pendidikan sastra tak dapat maju? Barangkali karena saat itu tidak begitu diperlukan orang-orang kreatif. Ini disebabkan pola pembinaan di masa itu adalah pola militan dan komando. Bila ada orang yang kreatif, maka sistem komando atau militan itu tidak bisa berjalan. Kenapa sewaktu di taman kanak-kanak ada belajar seni? Ini disebabkan sewaktu kecil anak-anak perlu kreativitas. Kita dapat menyaksikan di taman kanak-kanak atau prasekolah itu yang pertama diajarkan adalah seni menggambar, menyanyi, bercerita, bermain, menyusun, dan lain-lain. Akan tetapi, setelah mulai tumbuh maka kreativitas itu mulai dikurangi dengan jalan hafalan. Sistem pendidikan yang diperlukan cenderung upaya untuk memenuhi NEM pada Ebtanas.
Kreativitas tidak saja diperlukan oleh murid, melainkan juga oleh guru dan didukung prasarananya yang memadai. Bila guru tidak kreatif dan prasarananya tidak memadai untuk menciptakan lingkungan kreatif, maka hasilnya tentu saja tidak memuaskan. Kreativitas guru bukan dituntut begitu saja, tetapi faktor penunjang kreativitas guru itu pun perlu diperhatikan. Bila dulu guru dihadapkan dengan GBPP yang terkomando maka sekarang tidak lagi demikian. Rasanya tidak perlu lagi segala sesuatu itu dalam bentuk sama atau seragam. Bukankah semboyan di kaki burung garuda adalah Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman menjadi satu. Inilah yang terjadi selama ini. Bila di suatu sekolah atau daerah, misalnya, ditentukan sebagai buku wajib untuk sebuah novel adalah Siti Nurbaya atau puisi adalah sajak Aku, maka daerah lain juga diwajibkan begitu. Padahal tidak harus demikian. Akibatnya semua siswa di nusantara ini hanya dikenalkan dengan Marah Rusli dan Chairil Anwar saja.
Kalau seperti ini halnya maka akan janggal bila seorang anak bertemu puisi atau karya sastra lainnya yang berbeda isi dan bentuk. Misalnya sajak Aku dalam bentuk lain berjudul Semangat. Cerita Malin Kundang misalnya ada beberapa bentuk. Bila dahulu kita kenal cerita Malin Kundang dinyatakan kedurhakaan anak terhadap ibu, maka dalam bentuk lain A. A. Navis cerita Malin Kundang itu dinyatakan ibunya yang durhaka. Menurut Wisran Hadi, Malin Kundang tidak durhaka tetapi tukang rebab (penceritalah) yang menyelesaikan cerita jadi lain. Bila Malin Kundang itu menurut cerita lama menjadi batu, menurut Umar Junus menjadi pohon pisang. Sementara menurut Alwi Karmena melalui Malin Kundang Milenium bahwa Malin Kundang itu hanya konsep kedurhakaan, maka semua kedurhakaan dianggap Malin Kundang seperti wakil rakyat yang durhaka kepada rakyatnya, pemerintah, pakbrik semen Padang, dan lain-lainnya. Mungkin lain lagi menurut versi-versi lain.
Ada banyak cerita Malin Kundang (MK). Masing-masing cerita itu tumbuh dan berkembang. Bermula dari cerita rakyat yang berkembang dari mulut-telinga-mulut, kemudian dibukukan. Selanjutnya muncul MK dalam bentuk kreatifitas lain seperti puisi, cerpen, film, sinetron, dan esai. Semua cerita itu tetap saja tentang kedurhakaan, akan tetapi tidak saja durhaka antara anak dan ibu, namun juga kedurhakaan ibu kepada anak, dan pengarang kepada pembaca. Malin Kundang susunan Syamsuddin Udin (bertolak dari dendang rebab), Malin Kundang, Ibunya Durhaka cerpen A. A. Navis; Malinkundang, Malinkundangkah Engkau? Puisi Hamid Jabbar; Malin Kundang naskah drama Wisrann Hadi; Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang karya Goenawan Mohammad; Liem Khoon Doang karya Wisran Hadi; Malin Kundang Menantang Mitosnya karya Umar Junus; Malin Kundang Millenium karya Alwi Karmena; Malin Kundang sinetron SCTV; dan Malin Kundang 2000 karya Budiar Putra.
Bila kejadian seperti demikian, maka tentulah guru akan sulit menerangkan atau meyakinkan siswa akan kebenaran cerita Malin Kundang yang dahulu itu. Hal-hal seperti ini diperlukan kejelian guru dengan memperkaya bacaan-bacaan tambahan. Dalam proses kreativitas penulis atau sastrawan tidak saja lagi berdasarkan kehidupan dirinya sendiri atau realitanya sendiri, tetapi bisa saja berdasarkan pengalaman orang lain. Misalnya novel Saman karya Ayu Utami yang sangat laris dan terkenal itu. Dalam wawancara beberapa waktu yang lalu, Ayu Utami menjelaskan bahwa sebenarnya ia belum pernah hidup di Palembang, namun ia bisa bercerita banyak tentang Palembang. Hanya sekali saja ia datang ke anjungan minyak lepas pantai, namun hasil tulisannya mengesankan ia telah bertahun-tahun di sana. Bagitu juga dengan cerita bersambung berjudul; Si Bungsu karya Makmur Hendrik yang mengisahkan tentang kehidupan rezim Yakuza di Jepang. Padahal Makmur Hendrik menginjak Jepang setelah novel itu selesai. Begitu juga dengan cerita-cerita silat Ko Ping Hoo, penulis cerita silat yang terkenal itu.
Peran karya sastra sangat banyak yang perlu disampaikan kepada siswa. Sastra bukan saja untuk dibaca dan dinikmati sebagai tugas belajar, tetapi memegang peran yang lebih luas lagi. Karya sastra dapat saja sebagai sarana peneguhan struktur sosial masyarakat, seperti Cindur Mato dan Sejarah Melayu (karya masterpiece dalam khazanah sastra Minangkabau dan Melayu yang diciptakan dalam rangka peneguhan struktur sosial pada waktu itu. Raja yang diakui sebagai pemimpin masyarakat itu adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Kebesaran negara didukung oleh citra rajanya yang berkekuasaan tinggi. Sebagai penguasa tertinggi, kekuasaannya dibatasi oleh kemahakuasaannya Tuhan. Raja harus “adil pada memeliharakan rakyat”, “bijaksana”, “baik barang lakunya”, dan tidak memiliki cela. Raja yang menghukum rakyat dengan tiada salah, hancurlah negaranya. Terhadap raja yang idaman yang berdaulat itu, rakyat pun tidak boleh durhaka. Kedurhakaan rakyat akan membawa malapetaka bagi masyarakat dan negara. Pranata sosial demikian dapat hidup terus dari generasi ke generasi.
Karya sastra juga sebagai cerminan gejala yang muncul dalam masyarakat dan cendrung memperlihatkan tragedi sosial ditujukan oleh kondisi masyarakat yang makin cenderung memperlihatkan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, semakin sulitnya mendapatkan lahan untuk bekerja, kesenjangan sosial yang makin melebar, birokrasi yang terlihat kencang meningkatkan langkah-langkah kerja, kerja yang tidak efisien berhamburan sia-sia, juga oleh kelaparan yang muncul di berbagai belahan bumi Indonesia. Terlihat dalam sajak Taufiq Ismail dengan judul Kembalikan Indonesia Padaku.
Karya sastra dapat merubah citra suatu masyarakat. Hal ini dapat dilihat berubahnya kehidupan masyarakat yang dahulunya lebih suka mengawinkan anak perempuan berdasarkan kehedak orang tua, namun setelah adanya novel Siti Nurbaya yang menjadi pameo masyarakat menjadi perempuan muda tidak mau saja lagi dijodohkan oleh orang tua. Banyaknya lelaki yang poligami sehingga tidak tahu lagi anak seayah menikah. Hal ini dilukiskan oleh A. A. Navis lewat cerpen Datangnya dan perginya yang kemudian dikembangkan menjadi novel Kemarau. Begitu juga dengan novel Chairul Harun yang dapat merubah sikap orang Pariaman suka bersuami banyak atau kawin dengan janda. Perubahan sikap para kiai yang selalu memikirkan sorgawi saja daripada duniawi telah dapat tersadarkan melalui cerpen Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis. Emha Ainun Najib dengan karyanya Slilit Sang Kiai telah dapat menggerakkan hati sekelompok mahasiswa dan bertindak lebih hati-hati terhadap harta milik orang lain.
Karya sastra dapat juga dilihat secara intertekstual, di mana dalam karya itu akan ada teks atau karya lainnya. Naskah cerita Puti Bungsu karya Wisran Hadi akan mengingatkan kita terhadap cerita Malin Kundang dan kompleks cerita Malin Deman.
Dalam karya sastra dapat juga dilihat unsur tidak cerita dan cerita. Misalnya banyak orang menyangkutkan kisah Siti Nurbaya itu memang kejadian sebenarnya karena di dalam novel tersebut ada tempat-tempat yang memang ada seperti puncak bukit gado-gado tempat bermain ayunan Siti Nurbaya serta kuburannya. Pada cerita-cerita klasik atau tradisional juga demikian. Kebanyakan orang setelah mendengar kaba Minangkabau merasa yakin betul bahwa cerita itu seakan-akan benar terjadi. Cerita adu kerbau di Minangkabau dianggap cerita yang sebenarnya, sehingga kata Minangkabau berarti menang kerbau. Cerita Malin Kundang juga demikian karena di tempat kejadian dalam cerita itu memang ada batu yang mirip kapal dan dermaga. Malahan sekarang relief cerita Malin Kundang itu dibuat sesuai dengan yang sebenarnya.
               Orang dari budaya Minang umumnya takut dikatakan Malin Kundang. Hal itu jelas kelihatan pada sajak Syahril. Oleh kerana itu, seorang pemuda enggan mengaku diri Malin Kundang bila dia didekati Malin Kundang begitu dia menjejakkan kaki di Teluk Bayur. Dia mengingat dan mengasihi ibunya. Ini dilanjutkannya dengan dekonstruksi citra ibu yang biasa yang terdapat dalam cerita MK .Malin Kundang menjadi batu bukan kerana kutukan ibu, tetapi hukuman Tuhan kerana dia menderhaka kepada ibunya. Hal ini ditemui juga pada Wisran, Umar Junus, Navis dan Irwansyah. Rasa takut mereka dikaitkan dengan Malin Kundang telah mendorong mereka memperolokkan cerita itu. Sehubungan itu, Irwansyah memberikan sifat lain pada Malin Kundang 2000, hingga dia kelihatan berbeza dari cerita MK orang lain. Yang mereka dekonstruksikan hanya ceritanya. Batunya tetap utuh. Dekonstruksi itu pasti memungkinkan cerita MK dapat menghidupi dunia kini. Ia bukan hanya sebahagian daripada masa lampau. Hal ini boleh dilakukan dengan melihatnya daripada berbagai perspektif dan secara kreatif, lantaran dapat mengolah kemungkinan yang disediakannya.
               Dengan perlakuan cerita MK yang dibicarakan tadi, cerita MK  yang dikatakan berasal dari masa lampau telah menjadi bahagian kehidupan kini. Ia mempunyai tempat dalam kehidupan hari ini. Sikap itu sekaligus mengekalkan kehadirannya. Ia mungkin lebih kepada Cerita Malin Kundang yang tadinya hanya sebahagian budaya Minangkabau yang kini juga merantau ke luar wilayah budaya asalnya. Ini barangkali juga boleh dilakukan terhadap cerita rakyat lain dan ini menunggu pengolahan selanjutnya.
Apa dan mengapa Malin Kundang hadir dalam kehidupan dan kebudayaan kita. Kita bisa lihat dari sisi apa saja, tanggung jawab, kewajiban, adat, agama, politik dan keadaan. Inilah sebuah kajian awal tentang Malin Kundang dari masa ke masa. Malin Kundang memang anak durhaka, tetapi apakah kedurhakaan itu timbul oleh Malin Kundang semata, bagaimana dengan keadaan, adat, agama, ekonomi, dan budaya yang ada pada waktu Malin Kundang itu ada. Malin Kundang ada di berbagai daerah di Indonesia (nusantara) ini. Untuk itu perlu suatu kajian sebagai penelusuran budaya dan bentuk lainnya. Apakah ini cognitive cultural?
Akhirnya karya sastra mempunyai peran fungsional dalam masyarakat antara lain memberikan hiburan, ketenangan batin, peredam kemarahan, melembutkan hati yang keras, sarana pembangkit dan pengibar semangat juang, menjadi sarana pengajaran yang efektif, sarana penegak tata sosial, pemberi informasi tentang pelajaran  moral dan agama, serta pemberi infromasi tentang berita sejarah dapat dilihat dari berbagai sudut dan segi. Karya sastra tidak dapat dimaknai untuk sekali baca saja. Bahkan setiap kali kita baca akan muncul persepsi dan makna yang baru.



Daftar Pustaka

A. A. Navis. 1990. Bianglala Kumpulan Cerpen. Jakarta: Pustakakarya Grafikatama
--------------. 1967. Kemarau. Bukittinggi: Nusantara
Chairul harun. 1979. Jakarta: Pustaka Jaya
Emha Ainun Nadjib. 1996. Slilit Sang Kiai. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Fuad Hasan. 1993. Catatan Perihal Sastra dan Pendidikan. Makalah seminar
Internasional Sastra, Film, dan Pendidikan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Marah Rusli. 1990. Siti Nurbaya. Jakarta: Balai Pustaka
Siti Chammamah Soeratno. 1994. Sastra dalam Wawasan Pragmatis Tinjauan atas Azas
Relevansi di dalam Pembangunan Bangsa. Pidato pengukuhan jabatan guru
besar pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Umar Junus. 1993.  Dongeng tentang Cerita. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia
------------- 2005. Malin Kundang dan Dunia Kini. e-mail: junus at pc.jaring.my
Wisran Hadi. 1985. Liem Khoon Doang. Padang: Bahan Program Ceramah Penulisan
      Kreatif di Museum Adhityawarman


Perbandingan Tokoh Wanita Dalam Kaba dengan
Novel Indonesia Balai Pustaka

Drs. Hermawan, M. Hum.

Pendahuluan

            Topik ini didasarkan oleh pemikiran bahwa antara kaba (sastra fiksi Minangkabau) mempunyai pertalian yang erat dengan novel Indonesia modern pada zaman awal penulisannya. Pertalian itu dihubungkan oleh unsur pengarang sebagai pencipta, dan realitas objektif sebagai sumber penciptaan. Puncak novel Indonesia modern sebagaimana diketahui pada umumnya ditulis oleh pengarang dari etnis Minangkabau. Sehingga novel seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Tenggelamnya Kapal van der Wijk banyak sedikitnya dipengaruhi oleh sosio budaya Minangkabau.
            Asumsi dasar sebelum ini secara umum selalu mengaitkan sastra Indonesia dengan sastra Melayu sebagai akibat logis dari pencuatan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Padahal kreativitas muncul dari unsur manusianya bukan bahasa yang digunakannya sebagai alat, sehingga pengaitan sastra Indonesia dengan tradisi sastra Minangkabau menjadi penting ditinjau dari sudut unsur manusianya ‘pengarang’. Novel sebagai karya ekspresif berkaitan dengan tradisi sosio budaya yang melatyarbelakanginya. Oleh sebab itu, kemungkinan lompatan kaba ke novel lebih logis dibandingkan kemungkinan lompatan dari hikayat ke novel.
            Perbandingan antara kaba dengan novel sekaligus dapat juga dijadikan gambaran perubahan sosial di tengah masyarakaty Minangkabau, perubahan pandangan dan pemikiran terhadap sosio budaya Minangkabau. Perbandingan penokohan antara kaba dengan novel diperkirakan akan memperlihatkan perubahan motivasi, pandangan hidup, prilaku, kebijakan, dan pemikiran yang berkembang dalam masyarakat.
            Beda penokohan kaba dengan novel diperkirakan sebagaimana perbendaan antara pandangan orang Minang yang masih Minang dengan orang Minang yang telah mengindonesia. Penokohan kaba akan memperlihatkan karakteristik ketokohan anggota masyarakat Minangkabau yang masih berintekraksi sesamanya. Sedangkan penokohan novel akan memperlihatkan karakteristik ketokohan anggota masyarakat Minangkabau yang telah berintekraksi secara bebas dengan kelompok etnis lain.

Kerangka Berfikir
            Istilah penokohan dibedakan dengan perwatakan. Penokohan berhubungan dengan kondisi dan karakteristik tokoh dalam kontek sosialnya terhadap tokoh dan unsur lain, sedangkan perwatakan merupakan keselarasan unsur-unsur kedirian tokoh tersebut tanpa dihubungkan dengan keserasiannya dengan tokoh dan unsur lainnya.
            Perawatan suatu tokoh hanya dilihat dalam keserasian kondisi pisik dengan  kondisi psikis tokoh terebut. Kondisi pisik tokoh meliputi penamaan, gelar, sapaan, keadaan tubuh, dan keadaan pakaian. Kondisi psikis meliputi segala gejolak kejiwaan tokoh, seperti emosi, pikiran, pandangan, angan-angan dan reaksi. Kondisi pisik dan kondisi psikis harus saling tunjang menunjang dalam bentuk suatu perwatakan tokoh.
            Kondisi pisik tokoh pada umumnya relatif tetap, dan hanya terubah apabila terjadi perubahan waktu atau perkembangan usia tokoh. Sedangkan kodisi psikis akan berubah apabila terjadi pergantian waktu, tempat, tujuan penceritaan, dan terutama oleh perubahan peran tokoh. Maka dalam diri seorang tokoh akan muncul keragaman perwatakan akibat perubahan perannya. Perwatakan akan menjadi landasan dari prilaku dan ucapan tokoh yang disesuaikan dengan perannya.  Permasalahan fiksi pada hakekatnya muncul akibat pertemuan antara peran doa orang tokoh – dapat pula dua kelompk tokoh—yang bermula dari perwatakannya yang berbeda. 
            Penokohan merupakan keserasian antara prilaku dan ucapan dengan peran dan permasalahan fiksi. Setiap prilaku, ucapan, dan peran tokoh akan selalu terkait secara berpasangan atau berlawanan dengan perilaku, ucapan dan peran tokoh lainnya.  Maka penokohan berharti kondisi tokoh dalam interaksinya dengan tokoh lain.
            Sehubungan dengan hal itu  maka pembahasan tentang penokohan dan perawatan sebenarnya harus dipilih berdasarkan peran tokoh tersebut. Setiap tokoh cerita akan selalu   
berubah-ubah peran dan akan mustahil hanya memerankan satu peran saja Dengan kata lain tolak ukur tokoh utama atau tidaknya seorang tokoh ditinjau dari sudut keragaman peranya.  Semankin banyak yang  diperankan  seorang tokoh, semankin penting tokoh tersebut dan ialah tokoh utama cerita..
            Pembahasan tentang tokoh wanita tidak dapat dilakukan tanpa penyorotan tokoh laki-laki. Penokohan muncul atas dasar peran yang difungsikan pengarang kepada tokoh tersebut. Pembicaraan peran hanya dapat dilakukan jika dihubungkan dengan pasangan ataun lawan peran tersebut. Misalnya pembicaraan peran ibu tidak akan menonjol jika tidak dikaitkan dengan peran anak sebagai lawannya atau dengan peran ayah sebagai pasangannya. Oleh sebab itu, dalam pembicaraan tokoh wanita tetap terkait dengan tokoh laki-laki.

Ragam Peran Kaba
            Dari hasil penelitian tiga buah kaba, yakni; Cindua Mato (CM), Anggun nan Tongga (ANT), dan Malin Deman (MD) ditemukanlah bebarapa jenis peran tokoh yang dibedakan atas:
(a)    peran dalam keluarga inti yang meliputi ibu, anak, kakak, adik, dan kemenakan (keponakan);
(b)   peran dalam keluarga luasan yang meliputi ayah, mertua, menantu, suami, dan istri;
(c)    peran akibat hubungan keluarga inti dengan keluarga luasan yang meliputi ipar dan besan; dan
(d)   peran dalam interaksi sosial yang meliputi majikan, pembantu, pimpinan, bawahan, penghulu, ulama, guru, murid, kekasih, sahabat, wali murid, tuan rumah, dan tamu.
Mengingat waktu dan kesempatan. Dalam hal ini peran-peran yang melibatkan tokoh wanita dalam ketiga kaba hanyalah sebagai ibu, anak, kakak, adik, dan istri. Dari peran-peran inilah akan disoroti perbandingan penokohan antara kaba dengan novel. Novel yang dijadikan sampel pembandingnya adalah Siti Nurbaya (SN), Salah Asuhan (SA), dan Tenggelamnya Kapal van der Wijk (TKW).

Perbandingan Penokohan Kaba dengan Novel
Penokohan Wanita sebagai Ibu
            Dalam sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau peran ibu menjadi peran sentral dari peran-peran lainnya. Ketokohan ibu dalam masyarakat menjadi patokan bagi keluarganya terutama anak-anaknya. Ibu simbol dari kekokohan suatu keluarga, sekaligus ibu pencerminan dari raja dalam keluarga karena peran ibu berpengaruh pula terhadap peran wanita lain dalam keluarga seperti saudara, istri, mertua, dan menantu.
            Perwatakan tokoh wanita yang berperan sebagai ibu dalam kaba digambar seorang wanita yang mempunyai wawasan untuk kebaikan keluarga dan kampungnya, mempunyai cita-cita agar anggota keluarganya melebihi anggota keluarga lainnya dan mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kemajuan anggota keluarga dan masyarakat kampungnya.
            Setelah seorang anak lahir tanggung jawab terhadap anak yang diberikan orang tua ternyata dari ibu bukan ayah. Hal ini meliputi usaha membesar anak, menyelenggarakan pendidikan terhadap anak atau setidak-tidaknya mengusahakan pendidikannya. Hal itu terutama pada tokoh wanita yang hidup di wilayah kampung halamannya. Sejak kecil anak hanya mengenal ibunya, sedangkan ayah boleh dikatakan tidak hidup bersama anaknya. Demikian halnya dengan tokoh wanita sebagai ibu seperti Suto Sori, Amai Manah, dan Galinggang Layua (ANT) yang membesar anak-anak mereka tanpa didampingi suami mereka. Sedangkan ayah telah meninggalkan istri dan anaknya di saat anak belum lahir atau baru saja lahir. Sementara itu tokoh Bundo Kambang Bandahari, Puti Bungsu, Lenggogeni, Puti Linduang Bulan (CM) memang ada didampingi suaminya Cindua Mato, Dang Tuanku, dan Rajo Mudo, Bujang Salamaik, tetapi sang ayah ini tidak pernah memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak-anaknya. Kenyataan seperti ini pulalah yang muncul dalam novel Salah Asuhan dimana pendidikan dan kehidupan tokoh Hanafi dan Safei diupayakan dan ditentukan oleh ibunya. Begitu pula dengan kehidupan tokoh Zainuddin (TKW) yang dibesar dan dididik oleh keluarga ibunya.
            Dalam kaba memang ada pula ditemukan hanya hidup serumah antara ayah dan anak perempuannya, seperti Katik Intan, Mangkudum Sati (ANT), Tiang Bungkuk (CM), latar kehidupan ini benar-benar berada di luar daerah Minangkabau atau hidup di perantauan. Sungguhpun ayah dan anak hidup serumah dengan anak perempuannya tanpa diketahui bagaimana ibunya, tetapi ayah tidak pernah memperlihatkan perilaku yang mengusahakan pendidikan dan kemaslahatan anaknya seperti Santan Batapih, Andami Sutan (ANT). Hal ini sangat berbeda dengan ibu pada tokoh Suto Sori, Ameh Manah, Galinggang Layua (ANT) Bundo Kanduang (CM),  yang menentukan dan peduli dengan pendidikan dan kehidupan anak-ananya di masa datang. Sungguhpun anaknya itu laki-laki, ibu tetap peduli dan memegang kendali dan inisiatif terhadap sikap dan perilaku anaknya.
            Dalam novel (SN) tokoh Siti Nurbaya hidup dan dibesarkan oleh ayahnya. Kehidupan ayah dan anaknya walaupun tidak diperantauan atau di luar daerah Minangkabau, namun masih dapat dipahami sebagai wilayah pesisir yang secara kultural diakui wilayah rantau juga. Apakah tokoh Siti Nurbaya hidupnya dikendalikan dan dipedulikan oleh ayahnya? Dia kawin dengan Datuak Maringgih bukanlah karena terpaksa tetapi dengan sukarela. Baginda Sulaiman tidak memaksa anaknya kawin, melainkan mengharapkan pertimbangan dan kerelaan Siti Nurbaya. Pada hakikatnya begitu pula pelukisan tokoh wanita Corrie dalam (SA) yang jelas-jelas disebutkan sebagai wanita keturunan Perancis, tetapi berprilaku sama dengan tokoh-tokoh wanita lain.
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ibu dapat mengendalikan kehidupan dan kepentingan ananknya. Sedangkan ayah tidak dapat berbuat demikian apadfa anaknya. Anak takluk dengan kepentingan ibunya tetapi tidak terhadap ayahnya. Baik pada kaba maupun novel jelas sekali bahwa ibu berperan dalam menetapkan norma-norma kehidupan bagi anak-anaknya, sedangkan ayah tidak mempunyai inisiatif sama sekali untuk kebutuhan anaknya dan membela kepentingan anaknya. Ibu mengendalikan perilaku kehidupan anak-anaknya, sekaligus menetapkan pula imbalan dan ganjaran bagi anak-anaknya. Maka baik atau buruknya kehidupan anak ditentukan oleh ibunya atau olehnya sendiri jika ia tidak beribu, dan bukan oleh ayahnya. Sehubungan dengan ayah pada sebagian besar tokoh tidak hidup bersama anak-anaknya, maka praktis kebutuhan metrial dan moral anak diusahakan dan dipenuhi sendiri oleh ibunya.
            Seorang ibu dalam mengupayakan cita-cita dan harapannya terhadap anaknya mempunyai beberapa tanggung jawab yang dilakukannya. Tanggung jawab utama adalah mendidik anak dengan bermacam pengatahuan dan keterampilan yang dikuasainya. Ibu sebagai pendidik tidak hanya terbatas menyangkut pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan rumah tangga. Tokoh ibu dalam kaba ANT menguasai semua keterampilan yang biasanya dikuasai para lelaki, seperti pengetahuan adat, agama, keterampilan bela diri, bercatur, berkuda, dan lain-lain. Pendidikan anak sepenuhnya tanggung jawab dari ibu, maka dengan demikian tokoh wanita dalam kaba dapat pula dinyatakan sebagai tokoh serba bisa.
            Tugas mendidik anak pada hakikatnya adalah tugas dan tanggung jawab ibu dan bukan ayah. Dalam kaba CM dan MD,  Bundo Kanduang dan Rangkayo juga berperan seperti itu, meskipun ia tidak melakukannya sendiri namun ia mencarikan guru untuk anaknya. Inisiatif ibu terlihat dari usaha untuk memajukan anak seperti pendidikan yang diminati anak, memberikan pertimbangan terhadap bidang pendidikan yang baik, mengupayakan bekal pendidikan anak, mencarikan guru yang tepat dalam bidang yang dipilih anak, dan mengantarkan anak ke tempat perguruan. Sementara itu ayah hanya merestui saja hasil kesepakatan antara ibu dan anak. Bukankah hal yang sama terdapat juga dalam novel SA di mana tokoh Hanafi berinisiatif mengupayakan pendidikannya anaknya. Tokoh Rafiah sungguhpun telah mengalami kegetiran hidup dirinya dengan Hanafi masih tetap bertekad membesarkan dan mendidik anaknya Syafei dengan caranya sendiri.
            Tokoh wanita yang berperan sebagai ibu terkesan sebagai wanita yang ambisius dalam menegakkan eksistensi dirinya sebagai penguasa rumah gadang. Ia berusaha membekali anaknya agar dirinya tidak dianggap sebagai wanita yang tidak mampu mengendalikan isi rumah gadang. Tujuan akhir adalah agar anak itu dapat melancarkan keinginannya dan menjaga keluarga agar tidak memalukan di mata orang lain. Seorang ibu akan bersikap welas asih, lembut, luwes, dan menghargai anak, jika anak itu menjadi orng yang terpandang di masyarakat dan tidak pulang ke rumah membawa malu. Seandainya anak pulang ke rumah dengan kegagalan dan kekurangan, akan disambut ibu dengan bengis, garang, dan memberikan hukuman dengan tegas tanpa memperhitungkan resiko terhadap anaknya tersebut. Demikianlah perlakuan tokoh Suto Sori terhadap Anggun nan Tongga dielu-elukan yang berhasil membawa mamak-mamaknya pulang dari rantau. Sebaliknya Anggun nan Tongga dicaci-maki dan diusir di saat pulang dari gelanggang keramaian dengan membawa malu ke rumah. Begitu juga dengan Bundo Kanduang terhadap Cindua Mato yang melarikan Puti Bungsu dengan menunggang kuda dari Sungai Ngiang ke Pagaruyuang.
            Dari penjelasan di atas maka terlihatlah bahwa keinginan ibu agar anaknya menjadi orang yang terkemuka dalam masyarakat. Ibu tidak menginginkan anaknya kalah dari anak orang lain Kekurangan seseorang dari orang lain merupakan malu ibu daripada malu anaknya sendiri. Oleh sebab itu, seorang ibu akan berupaya sewewenang dan sekemampuan yang dimilikinya, mulai dari cara yang demokratis sampai kepada cara yang otokratis.
            Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa ayah hanyalah pelengkap kehidupan rumah tangga, sedangkan pemegang peran utama adalah ibu. Ayah hanyalah simbol bagi ibu bahwa anaknya ada mempunyai ayang yang syah, sehingga ayah tidak berfungsi sebagaimana lazimnya orang tua bagi anaknya seperti saat ini. Maka dalam kaba wanita terutama yang berperan sebagai ibu menjadi tokoh sentral yang mempunyai idealisme, mandiri, penuh tanggung jawab, dan mempunyai sifat kepemimpinan, walaupun kadangkala terkesan ambisius dan sadis. Sebalikya laki-laki yang berperan sebagai ayah tergambar sebagai tokoh yang tidak punya inisiatif, lemah, dan tidak peduli dengan kehidupan keluarganya. Tokoh perempuan mempunyai rasa sosial, toleran dan bersifat dinamis walau hanya kepada anggota keluarganya, sedangkan laki-laki merupakan tokoh yang tersisih dan lebih bersifat statis di dalam keluarganya. Wanita merupakan tokoh yang tegar, mandiri, aktif, dan dinamis di lingkungan keluarganya, sebaliknya laki-laki merupakan tokoh yang lemah, pasif, statis, dan hidup di bawah- bayang-bayang wanita.

Penokohan wanita sebagai anak
            Usaha mengenali tokoh wanita sebagai anak baru terlihat nyata jika dibandingkn pula dengan laki-laki sebagai anak tentang sikap dan perilakunya di saat berhadapan dengan ibu dan ayahnya. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa orang tua yang dekat dengan anaknya adalah ibu, baik terhadap anak wanita maupun terhadap anak laki-laki. Sehingga anak berada dalm pengaruh dan kendali ibunya, dan secara psikis anak tidak terkait dengan ayahnya.
            Persamaan antara anak wanita dengan anak laki-laki adalah sama-sama takluk dan menghamba pada ibunya. Konflik antara anak dengan ibu jarang terjadi, sebaliknya konflik antara anak dengan ayahnya sering terjadi. Tokoh Puti Bungsu berani menyalahkan perilaku ayahnya Rajo Mudo yang semula menjodohkan Puti Bungsu dengan Dang Tuanku kemudian merencanakan mengawinkan Puti Bungsu dengan Rajo Imbang Jayo. Puti Bungsu rela lari dengan Cindua Mato saat akad nikah akan dilangsungkan.
            Perbedaan antara tokoh wanita dengan laki-laki sebagai anak adalah jika anak wanita tidak berani sedikitpun membantah ibunya, maka anak laki-laki  akan  melakukan
bantahan  walaupun ia akan gagal.  Anak laki-laki akan berusaha membela diri dengan kebenaran yang diyakininya. Sedangkan anak wnita hanya menerima salah dan pasrah terhadap ibunya. Perbandingan yang menyolok dalam hal ini adalah Siti Darma menerima pasrah keingan ibunya Siti Jamilah yang hendak membunuh dirinya. Sebaliknya Asamsudin berusaha membantah dan menghindar terhadap kemauan Siti Jamilah yang hendak membunuh dirinya.
            Dalam novel perbedaan prilaku anak laki-laki dan wanita ini juga menunjukan hal yang sama dengan prilaku dalam kaba. Tokoh Hayati ( TKW ) dan Rafiah ( SA ) tidak berani membantah keinginan ibu mereka yang memaksa kawin dengan pemuda yang tidak dicintai mereka tokoh Aziz  ( TKW ) dan tokoh Anafi berusaha dulu membantah keinginan ibunya yang memaksa kawin dengan tokoh Rafiah wanita yang tidak disukainya walaupun pada akhirnya ia gagal juga menetang kehendak ibunya  ( SA ).
            Perbedaan sikap dan prilaku tokoh wanita sebagai anak dengan sikap dan prilaku tokoh laki-laki dapat disimpulkan bahwa tokoh wanita akan sangat setia, patuh dan pasrah terhadap  kehendak ibunya, sebaliknya tokoh laki-laki akan bersikap korek dan mengalah kepada ibunya. Akan tetapi jika berhadapan dengan ayah, tidak ada perbedaan antara tokoh wanita dengan tokoh laki-laki,  keduanya sama-sama bebas dan leluasa terhadap ayah mereka. Kenyataan ini baik pada kaba maupun pada novel.  Kemerdekaan anak itu terlihat juga pada dasarnya dalam diri tokoh Siti Nurbaya ( SN ).Andam Sutan, Santan Batapih ( ANT ). Perbedaan  ini muncul karena tokoh wanita dalam kepatuhannya terhadap ibunya berdasarkan semata-mata dengan perasaan. Sedangkan tokoh laki-laki kepatuhan terhadap ibunya didasarkan pikiran dan perasaan. Pikiran menyebabkan ia mencoba  membantah, sedangkan perasaanya mengakibakan ia mengalah. Sementara itu jika ia berhubungan dengan ayah tidak ada ikatan emosional yang bersumber dari perasaan. Hubungan dengan ayah  semata-mata berdasarkan pertimbang rasional.
            Sebagai dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa ibu adalah penguasa  rumah tangga.  Sesuai dengan fitrahnya yang terbatas secara pisik, maka ia membagi tugas kepada anak-anaknya dalam arti anak adalah pelaksana kemaun ibu. Anak merupakan  perpanjangan tangan dari ibunya, baik anak wanita maupun anak laki-laki. Perbedaan pembagian tugas antara wanita dan laki-laki adalah jika anak wanita pelaksana dalam lingkungan rumah tangga, maka anak laki-laki merupakan pelaksana keingan ibu di luar ramah gadang . Berdasarkan peran anak maka terlihat dalam kaba bahwa tokoh wanita merupakan pelaksana kesemarakan keluarga di mata orang lain, sedangkan tokoh laki-laki sebagai benteng keluarga  dari ancaman orang lain. Prilaku anak baik  laki-laki maupun  perempuan adalah untuk mengokohkan eksistensi ibu sebagai penguasa rumah tangga 
            Pembagian tugas antara anak laki-laki dan wanita yang dibiasakan ibunya sejak kecil ini akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku mereka dalam peran-peran lainnya. Seperti anak wanita satu saat akan menjelma sebagai ibu atau istri yang berkuasa dalam keluarganya,  sementara anak laki-laki akan tetap sebagai orang yang asing dalam lingkungan  rumah  sungguhpun ia telah menjadi suami dan ayah nantinya. Dasar ini menyebabkan berlangsungnya budaya merantau bagi anak laki-laki tetapi tetap terikat dengan ibunya dan dalam  perwujutan lebih luas terikat kepada kampung halamannya.
            Tokoh wanita menguasai rumah sepenuhnya  sementara  pengarunya di luar rumah tersalurkan melalui anak atau saudara laki-lakinya. Sebaliknya tokoh laki-laki menguasai kehidupan  di luar rumah namun pengaruhnya tidak ada dalam lingkungan rumah. Keperkasaan tokoh Anggun Nan Tungga di gelanggang keramaian dan negeri orang tidak ada artinya jika berhadapan dengan tokoh Suto Sori  (ANT),  begitu pula dengan tokoh Cindua Mato yang tidak berdaya di hadapan Bundo Kanduang (CM),  tokoh Malin Deman di  hadapan Mandeh Rubiah (MD). Dalam kaba tokoh laki-laki berada di bawah  bayang-bayang wanita, baik wanita  itu ibunya maupun saudara perempuannya  bahkan akan terbiasa pula di hadapan istrinya.  Agaknya demikian  pulalah yang berlangsung terhadap tokoh laki-laki dalam novel  seperti tokoh Samsul Bahri,  Bagindo Sulaiman dan Datuak Maringgih tidak dapat memaksa keinginannya terhadap tokoh Siti Nurbaya ( SN ) ;  tokoh Hanafi terhadap ibunya, Rafiah dan Corrie;  tokoh Datuak Batuah terhadap saudaranya Ibu Hanafi ( SA ); tokoh Zainuddin dan Aziz terhadap Hayati (TKW ).    

Penokohan Wanita sebagai Saudara
            Penokohan wanita dalam peran saudara dapat ditinjau dalam hubungannya dengan sudara wanita, dan dalam hubungannya dengan saudara laki-laki. Penokohan wanita sebagai saudara merupakan duplikat ibu jika ibu tidak ada dalam hal hubungannya dengan saudara laki-lakinya dan adik perempuannya. Sikap, perilaku, dan pandangan tokoh wanita yang identik dengan ibu itu terlihat pada tokoh Puti Ranik Jintan yang menasihati dan memberi pertimbangan terhadap keinginan kakak laki-lakinya Rajo Imbang Jayo yang hendak menuntut balas atas kematian bapaknya Tiang Bungkuk. Begitu juga Puti Bungsu dengan Cindua Mato ketika menggagalkan pesta pernikahan Puti Bungsu dengan Rajo Imbang Jayo (CM). Pada tokoh Ganto Pomai yang memberi tanggung jawab kepada adiknya Suto Sori (ANT).
            Dalam novel terdapat pula aaspek penokohan yang sama dalam hubungan persaudaraan ini. Tokoh Datuak Batuah dengan sukarela membantu adiknya Ibu Hanafi menyekolahkan Hanafi, walaupun dikemudian hari Datuak Batuah menagih janji untuk mengawinkan anaknya Rafiah dengan Hanafi. Janji yang sulit untuk ditepati oleh Ibu Hanafi tidak membuatnya menentang tetapi hanya meninggalkan adknya dengan merajuk (SA). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada penentangan terbuka dari tokoh laki-laki terhadap saudara perempuannya. Dengan demikian kecenderungan tokoh wanita sebagai saudara akan identik sikap, watak, dan perilakunya dengan tokoh wanita sebagai ibu, baik dalam kaba maupun dalam novel.
            Perbedaan penokohan wanita sebagai ibu dengan saudara adalah tingkat kesetiaan, ketoleranan tokoh laki-laki terhadap dirinya. Tokoh laki-laki sebagai anak akan lebih sukarela membantu ibunya dalam situasi diminta ataupun tidak. Akan tetapi, tooh laki-laki sebagai saudara baru akan memberikan bantuan saudara perempuannya jika itu telah diminta. Sebaliknya tokoh wanita sebagai saudara baru akan memotivasi, mengarahkan, ataupun membantu saudara laki-lakinya jika suatu masalah telah menyinggung martabatnya. Demikianlah yang terlihat pada tokoh Suto Sori yang baru memerintahkan anaknya Anggun nan Tongga untuk mencari dan menyelamatkan saudaranya Mangkudum Sati, Nangkodo Rajo, dan Katik Intan, setelah nasib ketiga saudaranya telah diketahui masyarakat banyak. Padahal sebelum itu ia tidak ada terniat dan berfikir untuk mencari ketiga saudaranya itu (ANT).



Penokohan Wanita sebagai Istri
            Penokohan wanita sebagai istri cenderung egois karena pada hakikatnya laki-laki sebagai suami tidak diperlukan oleh wanita. Dalam kaba maupun novel terlihat bahwa tokoh wanita banyak hidup sendiri setelah mendapatkan anak dari suaminya. Misalnya tokoh Ameh Manah tidak mempedulikan nasib suaminya Nangkodo Rajo, ia merasa puas hidup berdua dengan anaknya Gondoriah; tokkoh Galinggang Layua tidak mempermasalahkan suaminya yang bertapa dan tidak pulang-pulang, ia pun puas hidup bersama anaknya Katik Alamsudin; tokoh Andami Sutan membiarkan suaminya Anggun nan Tongga pulang kampung meninggalkan dirinya karena ia telah mendapatkan anak Mandugo Ombak. Bahkan tokoh Suto Sori tidak merasa perlu untuk bersuami karena ia telah mendapatkan Anggun nan Tongga anak dari peninggalan kakak perempuannya Ganto Pomai (ANT).
Demikian pula dengan tokoh-tokoh wanita dalam novel, seperti Ibu Hanafi yang tidak mengeluhkan ketiadaan suami dalam hal mendidik dan membesarkan anaknya Hanafi; tokon Rafiah tidak perlu menghiraukan kepergian Hanafi dan bertekad sepenuhnya untuk mendidik dan membesarkan anaknya Syafei tanpa suami (SA); dan tokoh Hayati yang berusaha mencari dan merayu Zainuddin (TKW).
Tokoh wanita hanya memerlukan laki-laki sebelum ia mendapatkan anak. Untuk maksud itu adakalanya tokoh wanita bertindak di luar batas-batas norma, misalnya bersedia merebut suami orang yang dianggap terpandang sebagaimana Puti Lenggogeni yang mau saja dikawinkan dengan Cindua Mato meskipun Cindua Mato sudah beristri. Dalam novel tokoh Corrie yang terpelajar masih bersedia menerima Hanafi yang secara formal masih suami Rafiah (SA). Agaknya ini pulalah penyebab tokoh Siti Nurbaya (SN) dan Hayati (TKW) tetap berusaha mencari laki-laki bekas kekasihnya karena belum mendapatkan anak dari suami sebelumnya.
Dengan demikian tokoh wanita dalam kaba dan novel perode Balai Pustaka secara psikologis adalah laki-laki. Hanya secara fisiologis ia tetap wanita. Wanita tidak memerlukan laki-laki sebagai tempat berlindung untuk kebutuhan hidupnya. Tokoh wanita mampu berdiri di atas kemampuan dan kenyataan hidupnya sendiri. Ia tidak akan mengemis untuk mendapatkan harta kekayaan, karena ia memang telah menguasainya. Jika ia berkekurangan ia hanya akan memanfaatkan anak dan saudara laki-lakinya.

Kesimpulan
Dari penjelasan di atas maka dapatlah dipetik kesimpulan tentang penokohan wanita, baik dalam perbandingannya dengan penokohan laki-laki maupun gambaran penokohan wanita itu sendiri.
1)      Penokohan wanita dalam kaba dan novel periode Balai Pustaka terpusat pada perannya sebagai ibu. Sehingga sikap dan perilaku wanita dalam berbagai peran –anak, saudara, istri- identik dengan kedudukan dan fungsi ibu.
2)      Penokohan laki-laki dalam kaba dan novel periode Balai Pustaka terpusat pada perannya sebagai anak. Sikap dan perilaku laki-laki dalam berbagai peran –saudara, suami, istri- identik dengan kedudukan dan fungsi sebagai anak.
3)      Secara fungsional hubungan antar peran yang melibatkan antara tokoh wanita dan laki-laki akan identik sebagaimana hubungan ibu dan anak. Tokoh wanita selalu berada dalam posisi “di atas angin” baik dalam hubungan suami-istri maupun persaudaraan.
4)      Tokoh wanita menunjukkan ciri idealis, pengendali, pendidik, kreatif, dinamis, aktif, penguasa, tegar, pantang kalah dan juga ambisius terhadap anggota keluarganya. Sedangkan tokoh laki-laki memperlihatkan ciri-ciri pasif, statis, pasrah, suka mengalah, lemah, dan lugu terhadap anggota keluarganya. Laki-laki baru bersifat dan berprilaku positif setelah ia berhadapan dengan orang lain.
5)      Perkembangan kaba dan novel yang ditulis oleh pengarang-pengarang etnis Minangkabau sebenarnya tidak mencerminkan emansipasi wanita, melainkan pergelutan tokoh laki-laki dalam usahanya melepaskan diri dari cengkraman wanita.
.
Daftar Pustaka

Asri, Yasnur. 1996. Orientasi Nilai Budaya Tokoh Wanita Dalam Novel Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Endah, Syamsuddin St. R. 1982. Cindua Mato. Bukittingi: Pustaka Indonesia
Hamka. 1982. Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Jakarta: Balai Pustaka
Hermawan. 1998. “Profil Wanita dalam Kaba: Suatu Tinjauan Sosiolgi Sastra”. Tesis S2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Mahkota, Ambas. 1982. Anggun nan Tungga. Bukittinggi: Pustaka Indonesia
Manggis, Rasyid. 1984. Malin Deman. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.
Muhardi. 1998. “Dari Kaba ke Novel”. dalam Mursal Esten (ed). Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan. Bandung: Angkasa.
---------- Dan Hassnuddin WS. 1990. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: FPBS IKIP Padang
Muis, Abdul. 1988. Salah Asuhan. Jakarta: Balai Pustaka
Rusli, Marah. 1987. Siti Nurbaya. Jakarta: Balai Pustaka


.